Troya

troy.jpgJAKARTA – Dari sekian banyak kisah dalam mitologi Yunani, Perang Troya merupakan cerita yang paling kerap diulang. Kini, sutradara Wolfgang Petersen mencoba mengutak-atik kisah yang diangkat dari puisi berjudul The Iliad karya Hommer itu dengan memasang Brad Pitt sebagai daya tarik.

Perang Troya barangkali bisa disamakan dengan Mahabrata. Keduanya melibatkan banyak pahlawan perang yang bertempur untuk kedua belah pihak. Dalam Mahabrata, Kurawa dan Pendawa menjadi dua pihak yang berseteru. Namun, di belakang mereka berdiri orang-orang sakti yang sesungguhnya tidak memiliki kepentingan langsung dengan sebab-musabab perang.
Begitu pula dengan Perang Troya yang menyeret banyak pahlawan Yunani seperti Achilles (Brad Pitt) dan Odysseus (Sean Bean). Alkisah, Troya dan Sparta ingin berdamai. Maka, Raja Priam (Peter O’Toole) dari Troya mengirim dua putranya, Pangeran Hector (Eric Bana) dan Pangeran Paris (Orlando Bloom) untuk mengemban misi perdamaian, menemui Raja Menelaus (Brendan Gleeson). Di luar skenario, Pengeran Paris jatuh cinta pada Helen (Diane Kruger), istri Menelaus yang cantik jelita. Begitu besar cinta Paris hingga ia tak ingin membiarkan Helen berada di dekat Menelaus yang membuat jiwa kekasihnya kosong.
Ia menyelundupkan Helen di kapalnya dan membawanya pulang ke Troya. Namun, Paris tidak berpikir panjang. Cinta yang dia perjuangkan untuk Helen ternyata membawa petaka bagi negerinya. Menelaus tak tinggal diam. Ia marah bukan karena kehilangan Helen, melainkan karena harga dirinya terinjak-injak.
Menelaus kemudian meminta pertolongan kakaknya, Agamemnon (Brian Cox), raja Mycenae yang telah menaklukkan banyak negeri dan memaksa mereka berjuang untuk dirinya.
Mendengar keinginan adiknya untuk memerangi Troya, ambisi Agamemnon pun bagai bersambut. Sudah lama ia ingin menaklukkan Troya yang tak pernah bisa digempur oleh pasukan mana pun. Masalah adiknya sudah cukup menjadi alasan baginya untuk memerangi Troya.
Sesungguhnya, Troya dengan panglima perang Pangeran Hector bisa saja memukul mundur pasukan Agamemnon kalau saja kesatria paling tanggung Achilles tidak menjadi bagian dari Agamemnon. Awalnya, Achilles tidak ingin ikut campur dalam peperangan itu. Apalagi, dia sudah jatuh cinta pada adik sepupu Hector. Namun, kematian sepupunya sendiri di medan pertempuran di tangan Hector memunculkan dendam yang tiada terkira. Ia menantang Hector dan keduanya berlaga hingga Hector mati. Dan inilah awal dari kekalahan Troya.
Bertabur Bintang
Troy adalah film bertabur bintang. Anda bisa saksikan Brad Pitt yang telah lama menghilang—terakhir ia bermain dalam Confessions of A Dangerous Mind. Dalam film ini, ia diberi porsi besar dengan karakter yang sangat hebat. Sebagai aktor, Brad Pitt memiliki kemampuan akting yang baik, selain juga dikaruniai wajah yang tampan dan membuat banyak perempuan tergila-gila padanya.
Dengan kelebihannya itu, bermain sebagai Achilles, Pitt mestinya bisa tampil sekarismatik Russell Crowe dalam Gladiator. Sayangnya, Pitt seperti tidak bisa masuk dalam karakter Achilles yang senang bercinta, senang bertempur. Pitt lebih menakjubkan tatkala ia bermain Fight Club. Dalam film ini, energinya sebagai alter ego Edward Norton begitu besar dan dialirkannya dengan begitu efektif. Namun, energi semacam itu tidak muncul saat ia berperan sebagai Achilles.
Orlando Bloom yang melejit lewat film The Lord of the Rings juga belum membuktikan kemampuan aktingnya. Barangkali memang karena porsi untuk Bloom tidak terlalu banyak meski ia yang menjadi pangkal dari semua permasalahan.
Yang mampu memberikan penampilan istimewa justru Peter O’Toole. Aktor veteran ini bermain dengan sangat baik sebagai Raja Priam. Dalam salah satu adegan—mungkin adegan terbaik dalam film ini—Raja Priam mendatangi Achilles yang baru saja membunuh putranya tercinta. Dia berkata,
“Saya telah menanggung apa yang tak seorang pun di dunia ini bisa menanggungnya. Saya mencium tangan lelaki yang membunuh putraku.” Saat itu dengan suara bergetar, mata berlinang air mata, tetapi dengan tetap kewibawaan seorang raja yang tak berkurang sedikit pun, Priam memohon kepada Achilles untuk membiarkannya membawa jenazah Hector agar ia bisa menyelenggarakan upacara kematian dengan wajar. Adegan ini begitu menyentuh di tangan O’Toole, bukan Brad Pitt.
Petersen mungkin bisa berbuat jauh lebih baik jika film ini tidak bercerita terlalu lebar, terlalu banyak tokoh, sehingga tidak satu pun dibahas secara detail. Ada banyak tokoh menarik dalam mitologi Yunani. Barangkali, jauh lebih baik jika hanya kisah Achilles yang digali, atau Raja Priam saja, atau Pangeran Hector saja, atau bisa siapa saja. Tapi, bukan mereka bersama-sama sehingga film ini seperti memiliki fokus kecuali memperlihatkan kekolosalan yang juga diperlihatkan dalam film Gladiator atau film-film legenda lainnya.

Copyright © Sinar Harapan 2003

Sejarah Indonesia

Sejarah Indonesia meliputi suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai sejak zaman prasejarah oleh “Manusia Jawa” pada masa sekitar 500.000 tahun yang lalu. Periode dalam sejarah Indonesia dapat dibagi menjadi lima era: era pra kolonial, munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha serta Islam di Jawa dan Sumatra yang terutama mengandalkan perdagangan; era kolonial, masuknya orang-orang Eropa (terutama Belanda) yang menginginkan rempah-rempah mengakibatkan penjajahan oleh Belanda selama sekitar 3,5 abad antara awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20; era kemerdekaan, pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945) sampai jatuhnya Soekarno (1966); era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (1966-1998); serta era reformasi yang berlangsung sampai sekarang.

-Prasejarah

Secara geologi, wilayah Indonesia modern muncul kira-kira sekitar masa Pleistocene ketika masih terhubung dengan Asia Daratan. Pemukim pertama wilayah tersebut yang diketahui adalah manusia jawa pada masa sekitar 500.000 tahun lalu. Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya essetelah berakhirnya ZamEs.

-Era pra kolonial

Para cendekiawan India telah menulis tentang Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di pulau Jawa dan Sumatra sekitar 200 SM. Kerajaan Taruma menguasai Jawa Barat sekitar tahun 400. Pada tahun 425 agama Buddha telah mencapai wilayah tersebut.

Pada masa Renaisans Eropa, Jawa dan Sumatra telah mempunyai warisan peradaban berusia ribuan tahun dan sepanjang dua kerajaan besar yaitu Majapahit di Jawa dan Sriwijaya di Sumatra.

Kerajaan Hindu-Buddha

Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.

Kerajaan Islam

Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi dengan berimannya orang per-orang. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani umayyah di Asia Barat sejak abad 7.[1]
Menurut sumber-sumber Cina menjelang akhir perempatan ketiga abad 7, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera. Islam pun memberikan pengaruh kepada institusi politik yang ada. Hal ini nampak pada Tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dari Khilafah Bani Umayah meminta dikirimkan da`i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.” Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.
Islam terus mengokoh menjadi institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M. Contoh lain adalah Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim bernama Bayang Ullah.

Kesultanan Islam kemudian semikin menyebarkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan melalui pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir abad ke-16 di Jawa dan Sumatra. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoritas Hindu. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut.

Penyebaran Islam dilakukan/didorong melalui hubungan perdagangan di luar Nusantara; hal ini, karena para penyebar dakwah atau mubaligh merupakan utusan dari pemerintahan islam yg datang dari luar Indonesia, maka untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, para mubaligh ini bekerja melalui cara berdagang, para mubaligh inipun menyebarkan Islam kepada para pedagang dari penduduk asli, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk lainnya, karena umumnya pedagang dan ahli kerajaan/kesultanan lah yang pertama mengadopsi agama baru tersebut. Kesultanan/Kerajaan penting termasuk Samudra Pasai , Kerajaan Mataram di Yogja / Jawa Tengah, dan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku di timur.

-Era kolonial

Kolonisasi VOC

Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Satu-satunya yang tidak terpengaruh adalah Timor Portugis, yang tetap dikuasai Portugal hingga 1975 ketika berintegrasi menjadi provinsi Indonesia bernama Timor Timur. Belanda menguasai Indonesia selama hampir 350 tahun, kecuali untuk suatu masa pendek di mana sebagian kecil dari Indonesia dikuasai Britania setelah Perang Jawa Britania-Belanda dan masa penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia II. Sewaktu menjajah Indonesia, Belanda mengembangkan Hindia-Belanda menjadi salah satu kekuasaan kolonial terkaya di dunia. 350 tahun penjajahan Belanda bagi sebagian orang adalah mitos belaka karena wilayah Aceh baru ditaklukkan kemudian setelah Belanda mendekati kebangkrutannya.

Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.

Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.

VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa ini, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten

Kolonisasi pemerintah Belanda

Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir abad ke-18 dan setelah kekuasaan Britania yang pendek di bawah Thomas Stamford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816. Sebuah pemberontakan di Jawa berhasil ditumpas dalam Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Setelah tahun 1830 sistem tanam paksa yang dikenal sebagai cultuurstelsel dalam bahasa Belanda mulai diterapkan. Dalam sistem ini, para penduduk dipaksa menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia pada saat itu, seperti teh, kopi dll. Hasil tanaman itu kemudian diekspor ke mancanegara. Sistem ini membawa kekayaan yang besar kepada para pelaksananya – baik yang Belanda maupun yang Indonesia. Sistem tanam paksa ini adalah monopoli pemerintah dan dihapuskan pada masa yang lebih bebas setelah 1870.

Pada 1901 pihak Belanda mengadopsi apa yang mereka sebut Kebijakan Beretika (bahasa Belanda: Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi, dan sedikit perubahan politik. Di bawah gubernur-jendral J.B. van Heutsz pemerintah Hindia-Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial secara langsung di sepanjang Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara Indonesia saat ini.

Gerakan nasionalisme

Pada 1905 gerakan nasionalis yang pertama, [Serikat Dagang Islam] dibentuk dan kemudian diikuti pada tahun 1908 oleh gerakan nasionalis berikutnya, [Budi Utomo]. Belanda merespon hal tersebut setelah Perang Dunia I dengan langkah-langkah penindasan. Para pemimpin nasionalis berasal dari kelompok kecil yang terdiri dari profesional muda dan pelajar, yang beberapa di antaranya telah dididik di Belanda. Banyak dari mereka yang dipenjara karena kegiatan politis, termasuk Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno.

Perang Dunia II

Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Nazi Jerman. Hindia-Belanda mengumumkan keadaan siaga dan di Juli mengalihkan ekspor untuk Jepang ke AS dan Britania. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal di Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia Tenggara di bulan Desember tahun itu. Di bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942.

Pendudukan Jepang

Pada Juli 1942, Soekarno menerima tawaran Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang juga dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan militer Jepang. Soekarno, Mohammad Hatta, dan para Kyai didekorasi oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943. Tetapi, pengalaman dari penguasaan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan sembarang dan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran dalam penguasaan Jepang.

Pada Maret 1945 Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada pertemuan pertamanya di bulan Mei, Soepomo membicarakan integrasi nasional dan melawan individualisme perorangan; sementara itu Muhammad Yamin mengusulkan bahwa negara baru tersebut juga sekaligus mengklaim Sarawak, Sabah, Malaya, Portugis Timur, dan seluruh wilayah Hindia-Belanda sebelum perang.

Pada 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan Radjiman Widjodiningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang menuju kehancuran tetapi Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus.

-Era kemerdekaan

Proklamasi kemerdekaan

Mendengar kabar bahwa Jepang tidak lagi mempunyai kekuatan untuk membuat keputusan seperti itu pada 16 Agustus, Soekarno membacakan “Proklamasi” pada hari berikutnya. Kabar mengenai proklamasi menyebar melalui radio dan selebaran sementara pasukan militer Indonesia pada masa perang, Pasukan Pembela Tanah Air (PETA), para pemuda, dan lainnya langsung berangkat mempertahankan kediaman Soekarno.

Pada 18 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melantik Soekarno sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden dengan menggunakan konstitusi yang dirancang beberapa hari sebelumnya. Kemudian dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai parlemen sementara hingga pemilu dapat dilaksanakan. Kelompok ini mendeklarasikan pemerintahan baru pada 31 Agustus dan menghendaki Republik Indonesia yang terdiri dari 8 provinsi: Sumatra, Kalimantan (tidak termasuk wilayah Sabah, Sarawak dan Brunei), Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Maluku (termasuk Papua) dan Nusa Tenggara.

Perang kemerdekaan

Dari 1945 hingga 1949, persatuan kelautan Australia yang bersimpati dengan usaha kemerdekaan, melarang segala pelayaran Belanda sepanjang konflik ini agar Belanda tidak mempunyai dukungan logistik maupun suplai yang diperlukan untuk membentuk kembali kekuasaan kolonial.

Usaha Belanda untuk kembali berkuasa dihadapi perlawanan yang kuat. Setelah kembali ke Jawa, pasukan Belanda segera merebut kembali ibukota kolonial Batavia, akibatnya para nasionalis menjadikan Yogyakarta sebagai ibukota mereka. Pada 27 Desember 1949 (lihat artikel tentang 27 Desember 1949), setelah 4 tahun peperangan dan negosiasi, Ratu Juliana dari Belanda memindahkan kedaulatan kepada pemerintah Federal Indonesia. Pada 1950, Indonesia menjadi anggota ke-60 PBB.

Lihat pula The National Revolution, 1945-50 untuk keterangan lebih lanjut (dalam bahasa Inggris).

Demokrasi parlementer

Tidak lama setelah itu, Indonesia mengadopsi undang-undang baru yang terdiri dari sistem parlemen di mana dewan eksekutifnya dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada parlemen atau MPR. MPR terbagi kepada partai-partai politik sebelum dan sesudah pemilu pertama pada tahun 1955, sehingga koalisi pemerintah yang stabil susah dicapai.

Peran Islam di Indonesia menjadi hal yang rumit. Soekarno lebih memilih negara sekuler yang berdasarkan Pancasila sementara beberapa kelompok Muslim lebih menginginkan negara Islam atau undang-undang yang berisi sebuah bagian yang menyaratkan umat Islam takluk kepada hukum Islam.

Demokrasi Terpimpin

Pemberontakan yang gagal di Sumatera, Sulawesi, Jawa Barat dan pulau-pulau lainnya yang dimulai sejak 1958, ditambah kegagalan MPR untuk mengembangkan konstitusi baru, melemahkan sistem parlemen Indonesia. Akibatnya pada 1959 ketika Presiden Soekarno secara unilateral membangkitkan kembali konstitusi 1945 yang bersifat sementara, yang memberikan kekuatan presidensil yang besar, dia tidak menemui banyak hambatan.

Dari 1959 hingga 1965, Presiden Soekarno berkuasa dalam rezim yang otoriter di bawah label “Demokrasi Terpimpin“. Dia juga menggeser kebijakan luar negeri Indonesia menuju non-blok, kebijakan yang didukung para pemimpin penting negara-negara bekas jajahan yang menolak aliansi resmi dengan Blok Barat maupun Blok Uni Soviet. Para pemimpin tersebut berkumpul di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1955 dalam KTT Asia-Afrika untuk mendirikan fondasi yang kelak menjadi Gerakan Non-Blok.

Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Soekarno bergerak lebih dekat kepada negara-negara komunis Asia dan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI) di dalam negeri. Meski PKI merupakan partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan China, dukungan massanya tak pernah menunjukkan penurutan ideologis kepada partai komunis seperti di negara-negara lainnya.

Konfrontasi Indonesia-Malaysia

Soekarno menentang pembentukan Federasi Malaysia dan menyebut bahwa hal tersebut adalah sebuah “rencana neo-kolonial” untuk mempermudah rencana komersial Inggris di wilayah tersebut. Selain itu dengan pembentukan Federasi Malaysia, hal ini dianggap akan memperluas pengaruh imperialisme negara-negara Barat di kawasan Asia dan memberikan celah kepada negara Inggris dan Australia untuk mempengaruhi perpolitikan regional Asia. Menanggapi keputusan PBB untuk mengakui kedaulatan Malaysia dan menjadikan Malaysia anggota tidak tetab Dewan Keamanan PBB, presiden Soekarno mengumumkan pengunduran diri negara Indonesia dari keanggotaan PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mendirikan Konferensi Kekuatan Baru (CONEFO) sebagai tandingan PBB dan GANEFO sebagai tandingan Olimpiade. Pada tahun itu juga konfrontasi ini kemudian mengakibatkan pertempuran antara pasukan Indonesia dan Malaysia (yang dibantu oleh Inggris).

Nasib Irian Barat

Pada saat kemerdekaan, pemerintah Belanda mempertahankan kekuasaan terhadap belahan barat pulau Nugini (Irian), dan mengizinkan langkah-langkah menuju pemerintahan-sendiri dan pendeklarasian kemerdekaan pada 1 Desember 1961.

Negosiasi dengan Belanda mengenai penggabungan wilayah tersebut dengan Indonesia gagal, dan pasukan penerjun payung Indonesia mendarat di Irian pada 18 Desember sebelum kemudian terjadi pertempuran antara pasukan Indonesia dan Belanda pada 1961 dan 1962. Pada 1962 Amerika Serikat menekan Belanda agar setuju melakukan perbincangan rahasia dengan Indonesia yang menghasilkan Perjanjian New York pada Agustus 1962, dan Indonesia mengambil alih kekuasaan terhadapa Irian Jaya pada 1 Mei 1963.

Gerakan 30 September

Hingga 1965, PKI telah menguasai banyak dari organisasi massa yang dibentuk Soekarno untuk memperkuat dukungan untuk rezimnya dan, dengan persetujuan dari Soekarno, memulai kampanye untuk membentuk “Angkatan Kelima” dengan mempersenjatai pendukungnya. Para petinggi militer menentang hal ini.

Pada 30 September 1965, enam jendral senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang disalahkan kepada para pengawal istana yang loyal kepada PKI. Panglima Komando Strategi Angkatan Darat saat itu, Mayjen Soeharto, menumpas kudeta tersebut dan berbalik melawan PKI. Soeharto lalu menggunakan situasi ini untuk mengambil alih kekuasaan. Lebih dari puluhan ribu orang-orang yang dituduh komunis kemudian dibunuh. Jumlah korban jiwa pada 1966 mencapai setidaknya 500.000; yang paling parah terjadi di Jawa dan Bali.

-Era Orde Baru

Setelah Soeharto menjadi Presiden, salah satu pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia “bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB”, dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya.

Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.

Presiden Soeharto memulai “Orde Baru” dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya. Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat. Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata di Indonesia. Contohnya, jumlah orang yang kelaparan dikurangi dengan besar pada tahun 1970-an dan 1980-an. Dia juga memperkaya dirinya, keluarganya, dan rekan-rekat dekat melalui korupsi yang merajalela.

Irian Jaya

Setelah menolak supervisi dari PBB, pemerintah Indonesia melaksanakan “Act of Free Choice” (Aksi Pilihan Bebas) di Irian Jaya pada 1969 di mana 1.025 wakil kepala-kepala daerah Irian dipilih dan kemudian diberikan latihan dalam bahasa Indonesia. Mereka secara konsensus akhirnya memilih bergabung dengan Indonesia. Sebuah resolusi Sidang Umum PBB kemudian memastikan perpindahan kekuasaan kepada Indonesia. Penolakan terhadap pemerintahan Indonesia menimbulkan aktivitas-aktivitas gerilya berskala kecil pada tahun-tahun berikutnya setelah perpindahan kekuasaan tersebut. Dalam atmosfer yang lebih terbuka setelah 1998, pernyataan-pernyataan yang lebih eksplisit yang menginginkan kemerdekaan dari Indonesia telah muncul.

Timor Timur

Dari 1596 hingga 1975, Timor Timur adalah sebuah jajahan Portugis di pulau Timor yang dikenal sebagai Timor Portugis dan dipisahkan dari pesisir utara Australia oleh Laut Timor. Akibat kejadian politis di Portugal, pejabat Portugal secara mendadak mundur dari Timor Timur pada 1975. Dalam pemilu lokal pada tahun 1975, Fretilin, sebuah partai yang dipimpin sebagian oleh orang-orang yang membawa paham Marxisme, dan UDT, menjadi partai-partai terbesar, setelah sebelumnya membentuk aliansi untuk mengkampanyekan kemerdekaan dari Portugal.

Pada 7 Desember 1975, pasukan Indonesia masuk ke Timor Timur. Indonesia, yang mempunyai dukungan material dan diplomatik, dibantu peralatan persenjataan yang disediakan Amerika Serikat dan Australia, berharap dengan memiliki Timor Timur mereka akan memperoleh tambahan cadangan minyak dan gas alam, serta lokasi yang strategis.

Pada masa-masa awal, pihak militer Indonesia (ABRI) membunuh hampir 200.000 warga Timor Timur — melalui pembunuhan, pemaksaan kelaparan dan lain-lain. Banyak pelanggaran HAM yang terjadi saat Timor Timur berada dalam wilayah Indonesia.

Pada 30 Agustus 1999, rakyat Timor Timur memilih untuk memisahkan diri dari Indonesia dalam sebuah pemungutan suara yang diadakan PBB. Sekitar 99% penduduk yang berhak memilih turut serta; 3/4-nya memilih untuk merdeka. Segera setelah hasilnya diumumkan, dikabarkan bahwa pihak militer Indonesia melanjutkan pengrusakan di Timor Timur, seperti merusak infrastruktur di daerah tersebut.

Pada Oktober 1999, MPR membatalkan dekrit 1976 yang menintegrasikan Timor Timur ke wilayah Indonesia, dan Otorita Transisi PBB (UNTAET) mengambil alih tanggung jawab untuk memerintah Timor Timur sehingga kemerdekaan penuh dicapai pada Mei 2002

Krisis ekonomi

Pada pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan ekonomi Asia (untuk lebih jelas lihat: Krisis finansial Asia), disertai kemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. Rupiah jatuh, inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. Para demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa, meminta pengunduran diri Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan massa yang meluas, serta ribuan mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh. Soeharto kemudian memilih sang Wakil Presiden, B. J. Habibie, untuk menjadi presiden ketiga Indonesia.

-Era reformasi

Pemerintahan Habibie

Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet. Salah satu tugas pentingnya adalah kembali mendaptkan dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.

Pemerintahan Wahid

Pemilu untuk MPR, DPR, dan DPRD diadakan pada 7 Juni 1999. PDI Perjuangan pimpinan putri Soekarno, Megawati Sukarnoputri keluar menjadi pemenang pada pemilu parlemen dengan mendapatkan 34% dari seluruh suara; Golkar (partai Soeharto – sebelumnya selalu menjadi pemenang pemilu-pemilu sebelumnya) memperoleh 22%; Partai Persatuan Pembangunan pimpinan Hamzah Haz 12%; Partai Kebangkitan Bangsa pimpinan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 10%. Pada Oktober 1999, MPR melantik Abdurrahman Wahid sebagai presiden dan Megawati sebagai wakil presiden untuk masa bakti 5 tahun. Wahid membentuk kabinet pertamanya, Kabinet Persatuan Nasional pada awal November 1999 dan melakukan reshuffle kabinetnya pada Agustus 2000.

Pemerintahan Presiden Wahid meneruskan proses demokratisasi dan perkembangan ekonomi di bawah situasi yang menantang. Di samping ketidakpastian ekonomi yang terus berlanjut, pemerintahannya juga menghadapi konflik antar etnis dan antar agama, terutama di Aceh, Maluku, dan Papua. Di Timor Barat, masalah yang ditimbulkan rakyat Timor Timur yang tidak mempunyai tempat tinggal dan kekacauan yang dilakukan para militan Timor Timur pro-Indonesia mengakibatkan masalah-masalah kemanusiaan dan sosial yang besar. MPR yang semakin memberikan tekanan menantang kebijakan-kebijakan Presiden Wahid, menyebabkan perdebatan politik yang meluap-luap.

Pemerintahan Megawati

Pada Sidang Umum MPR pertama pada Agustus 2000, Presiden Wahid memberikan laporan pertanggung jawabannya. Pada 29 Januari 2001, ribuan demonstran menyerbu MPR dan meminta Presiden agar mengundurkan diri dengan alasan keterlibatannya dalam skandal korupsi. Di bawah tekanan dari MPR untuk memperbaiki manajemen dan koordinasi di dalam pemerintahannya, dia mengedarkan keputusan presiden yang memberikan kekuasaan negara sehari-hari kepada wakil presiden Megawati. Megawati mengambil alih jabatan presiden tak lama kemudian.

Pemerintahan Yudhoyono

Pada 2004, pemilu satu hari terbesar di dunia diadakan dan Susilo Bambang Yudhoyono tampil sebagai presiden baru Indonesia. Pemerintah baru ini pada awal masa kerjanya telah menerima berbagai cobaan dan tantangan besar, seperti gempa bumi besar di Aceh dan Nias pada Desember 2004 yang meluluh lantakkan sebagian dari Aceh serta gempa bumi lain pada awal 2005 yang mengguncang Sumatra.

Pada 17 Juli 2005, sebuah kesepakatan bersejarah berhasil dicapai antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan selama 30 tahun di wilayah Aceh.

 

Troya

JAKARTA – Dari sekian banyak kisah dalam mitologi Yunani, Perang Troya merupakan cerita yang paling kerap diulang. Kini, sutradara Wolfgang Petersen mencoba mengutak-atik kisah yang diangkat dari puisi berjudul The Iliad karya Hommer itu dengan memasang Brad Pitt sebagai daya tarik.

Perang Troya barangkali bisa disamakan dengan Mahabrata. Keduanya melibatkan banyak pahlawan perang yang bertempur untuk kedua belah pihak. Dalam Mahabrata, Kurawa dan Pendawa menjadi dua pihak yang berseteru. Namun, di belakang mereka berdiri orang-orang sakti yang sesungguhnya tidak memiliki kepentingan langsung dengan sebab-musabab perang.
Begitu pula dengan Perang Troya yang menyeret banyak pahlawan Yunani seperti Achilles (Brad Pitt) dan Odysseus (Sean Bean). Alkisah, Troya dan Sparta ingin berdamai. Maka, Raja Priam (Peter O’Toole) dari Troya mengirim dua putranya, Pangeran Hector (Eric Bana) dan Pangeran Paris (Orlando Bloom) untuk mengemban misi perdamaian, menemui Raja Menelaus (Brendan Gleeson). Di luar skenario, Pengeran Paris jatuh cinta pada Helen (Diane Kruger), istri Menelaus yang cantik jelita. Begitu besar cinta Paris hingga ia tak ingin membiarkan Helen berada di dekat Menelaus yang membuat jiwa kekasihnya kosong.
Ia menyelundupkan Helen di kapalnya dan membawanya pulang ke Troya. Namun, Paris tidak berpikir panjang. Cinta yang dia perjuangkan untuk Helen ternyata membawa petaka bagi negerinya. Menelaus tak tinggal diam. Ia marah bukan karena kehilangan Helen, melainkan karena harga dirinya terinjak-injak.
Menelaus kemudian meminta pertolongan kakaknya, Agamemnon (Brian Cox), raja Mycenae yang telah menaklukkan banyak negeri dan memaksa mereka berjuang untuk dirinya.
Mendengar keinginan adiknya untuk memerangi Troya, ambisi Agamemnon pun bagai bersambut. Sudah lama ia ingin menaklukkan Troya yang tak pernah bisa digempur oleh pasukan mana pun. Masalah adiknya sudah cukup menjadi alasan baginya untuk memerangi Troya.
Sesungguhnya, Troya dengan panglima perang Pangeran Hector bisa saja memukul mundur pasukan Agamemnon kalau saja kesatria paling tanggung Achilles tidak menjadi bagian dari Agamemnon. Awalnya, Achilles tidak ingin ikut campur dalam peperangan itu. Apalagi, dia sudah jatuh cinta pada adik sepupu Hector. Namun, kematian sepupunya sendiri di medan pertempuran di tangan Hector memunculkan dendam yang tiada terkira. Ia menantang Hector dan keduanya berlaga hingga Hector mati. Dan inilah awal dari kekalahan Troya.
Bertabur Bintang
Troy adalah film bertabur bintang. Anda bisa saksikan Brad Pitt yang telah lama menghilang—terakhir ia bermain dalam Confessions of A Dangerous Mind. Dalam film ini, ia diberi porsi besar dengan karakter yang sangat hebat. Sebagai aktor, Brad Pitt memiliki kemampuan akting yang baik, selain juga dikaruniai wajah yang tampan dan membuat banyak perempuan tergila-gila padanya.
Dengan kelebihannya itu, bermain sebagai Achilles, Pitt mestinya bisa tampil sekarismatik Russell Crowe dalam Gladiator. Sayangnya, Pitt seperti tidak bisa masuk dalam karakter Achilles yang senang bercinta, senang bertempur. Pitt lebih menakjubkan tatkala ia bermain Fight Club. Dalam film ini, energinya sebagai alter ego Edward Norton begitu besar dan dialirkannya dengan begitu efektif. Namun, energi semacam itu tidak muncul saat ia berperan sebagai Achilles.
Orlando Bloom yang melejit lewat film The Lord of the Rings juga belum membuktikan kemampuan aktingnya. Barangkali memang karena porsi untuk Bloom tidak terlalu banyak meski ia yang menjadi pangkal dari semua permasalahan.
Yang mampu memberikan penampilan istimewa justru Peter O’Toole. Aktor veteran ini bermain dengan sangat baik sebagai Raja Priam. Dalam salah satu adegan—mungkin adegan terbaik dalam film ini—Raja Priam mendatangi Achilles yang baru saja membunuh putranya tercinta. Dia berkata,
“Saya telah menanggung apa yang tak seorang pun di dunia ini bisa menanggungnya. Saya mencium tangan lelaki yang membunuh putraku.” Saat itu dengan suara bergetar, mata berlinang air mata, tetapi dengan tetap kewibawaan seorang raja yang tak berkurang sedikit pun, Priam memohon kepada Achilles untuk membiarkannya membawa jenazah Hector agar ia bisa menyelenggarakan upacara kematian dengan wajar. Adegan ini begitu menyentuh di tangan O’Toole, bukan Brad Pitt.
Petersen mungkin bisa berbuat jauh lebih baik jika film ini tidak bercerita terlalu lebar, terlalu banyak tokoh, sehingga tidak satu pun dibahas secara detail. Ada banyak tokoh menarik dalam mitologi Yunani. Barangkali, jauh lebih baik jika hanya kisah Achilles yang digali, atau Raja Priam saja, atau Pangeran Hector saja, atau bisa siapa saja. Tapi, bukan mereka bersama-sama sehingga film ini seperti memiliki fokus kecuali memperlihatkan kekolosalan yang juga diperlihatkan dalam film Gladiator atau film-film legenda lainnya.

Copyright © Sinar Harapan 2003

TROY

Cerita mengenai jatuhnya kerajaan Troy yang dikenal sangat susah ditaklukan oleh kerajaan-kerajaan di Yunani yang lainnya mengilhami berkembangnya Maliciousware yang menggunakan istilah yang sama dengan teknik untuk menyerang kerajaan Troy, yaitu “Trojan Horse”. Namun ada cerita yang lebih menarik dari legenda kerajaan Troy selain legenda “Trojan Horse” tersebut.Ketika Paris, putra kedua dari kerajaan Troy merebut Helen, istri raja Sparta, hal ini menyebabkan kemarahan raja sparta terhadap kerajaan Troy. Bermaksud untuk merebut kembali Helen yang telah di rebut, Sparta meminta Kerajaan Agagemon untuk menyerang kerajaan Troy, sebab Agagemon memang memiliki ambisi untuk menguasai Troy. Merasa tidak percaya diri dengan pasukannya, Agagemon meminta bantuan sebuah pasukan yang di pimpin oleh orang yang tidak mau tunduk oleh siapa pun, yaitu Achiles.

Achiles berperang bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri, ia ikut berperang menyerang kerajaan troy karena ingin namanya di catat dalam sejarah sebagai ksatria yang paling di takuti seantero Yunani. Achiles memiliki sepupu kesayangan yang selalu mendampinginya berperang. Sepupu Achiles masih sangat muda.

Ketika pasukan Troy yang dipimpin oleh Hector, kakak dari Paris, putra pertama pewaris kerajaan Troy, menyerang camp pasukan Agagemon, Achiles berniat untuk tidak berperang dan menyuruh pasukannya kembali ke dataran Yunani. Namun sayang, sepupu Achiles tidak mendengarkannya, ia menyamar sebagai Achiles, memimpin pasukannya berperang melawan pasukan Troy yang di pimpin oleh Hector. Dan ia pun berhadapan langsung dengan Hector. Hector mengira bahwa orang itu adalah Achiles, dan akhirnya sepupu achiles tewas di tangan Hector. Merasa salah membunuh orang, Hector menyadari bahwa ia melakukan kesalahan besar, dan harus membayarnya. Ia sadar bahwa Achiles akan datang memburu dia. Dengan berjiwa besar, ia pun memberitahu istrinya untuk menyelamatkan diri dan melindungi putra satu-satunya jika sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Hector pun memberitahu Priam, sang ayah raja dari kerajaan Troy, bahwa ia akan berduel dengan Achiles karena ia harus membayar perbuatannya.

Waktu yang ditunggu pun tiba, Achiles pun mendatangi Kerajaan Troy dan meminta Hector untuk bertarung. Sebelum bertarung, Hector meminta, siapa pun yang tewas nanti, makamkan jasadnya dengan cara yang wajar. Hingga akhirnya Hector pun tewas di tangan Achiles. Namun apa yang terjadi? Achiles justru menyeret jasad Hector dengan kereta kuda yang ia tunggangi. Seluruh keluarga raja Troy menyaksikan perbuatan tersebut dengan hati tersayat.

Pada malam harinya Priam, Raja Troy justru mendatangi camp Achiles, hal itu membuat Achiles tersentak kaget. Tau apa yang dilakukan oleh Priam? Ia menciumi tangan Achiles sang pembunuh putra mahkota kerajaan Troy, dan meminta dengan hormat untuk mengembalikan jasad Hector agar dapat dimakamkan dengan layak.

Sungguh hebat tokoh Priam ini, meski hatinya hancur, meski yang dicintainya telah direnggut dari dirinya dan tidak akan mungkin dapat dikembalikan seperti sediakala, ia justru berjiwa besar mendatangi orang yang merenggut satu-satunya kebanggaan, cinta dan harga diri yang ia miliki, hanya untuk meminta jasadnya kembali.

PANTUN

Terang bulan terang di kali

Buaya hidup disangka mati

Jangan percaya mulut leleki

Berani bersumpah takut mati

 

Apakah tanda bintang timur

Cahaya terang dilangit tinggi

Apakah tanda orang yang jujur

Dadanya lapang hatinya murni

 

Jalan-jalan kekota Deli

Jangan lupa beli papaya

Kalau ingin percaya diri

Jangan lupa selalu berdoa Read more »

Yang Sesungguhnya

Ketika hadirmu mengisi hidupku

Aku tahu engkaulah yang ku puja

Ketika ku sadari

Engkaulah yang ku suka

 

Ketika diriku mengerti

Aku telah jatuh cinta padanya

Aku ingin mengatakanya

Yang sesungguhnya

 

Sebelum engkau menjadi miliknya

Untuk selamanya

Aku hanya ingin engkau menyadari

Bahwa engkaulah

Yang paling aku cinta

 

Karya : Astea NL

Sahabat Yang Telah Pergi

Aku ingin menjadi sahabat untukmu

Ku perlukanmu

Dan kau perlukanku

Yang senang hati kau lakukan untukku

 

Aku ingin menjadi berani untukmu

Menemukan hal-hal yang baik dari mu

Merasa bahagia hatiku

Melihatmu menjadi bersemangat

 

Sahabat penuh arti, penuh makna, dan penuh cerita

Begitu juga untukku

Kau berarti dan bermakna bagiku

Kudapat bercerita dan berbagi untuk mu

 

Canda tawa, suka duka, tertawa bersama Read more »

Para Pejuang

Andai dulu tak ada mereka

Hari ini kita masih sengsara

Andai darah mereka tidak menetes

Hari ini kita masih dijajah

 

Perjuangan mereka yang tidak berhenti

Membuat hari ini menjadi cerah kembali

 

Sekarang kurasakan…

Kemerdekaan yang indah

Jasamu akan ku ingat

Terimakasih para pejuang-pejuangku

 

Karya : Dessy L

Kesempurnaan Yang Tiada

Kenyataan terasa begitu mengecewakan

Hidup terasa begitu menyakitkan

Dalam sekejap mata

Begitu banyak kekurangan yang terlihat

Dari seseorang yang kuanggap sempurna

 

Salahkah aku bila menganggapnya sempurna?

Salahkah aku bila menjadi seseoang perfeksionis?

Kekecewaan ini begitu mendalam

Ingin rasanya melepas nyawa ini

‘tuk menyadarkannya dan menunjukan padanya

Bahwa aku menyayanginya

Aku peduli padanya

 

Wahai saudaraku… Read more »

Gersang Dan Berguguran

Kasih…

Engkau bagai burung merpati putih yang terbang

Terbang jauh dihamparan langit biru

Tak berdaya aku

Engkau sudah tinggalkanku

 

Tahukah kau kasih…

Aku menangis, aku mendengarkanmu

Tahukah kau kasih…

Aku mengenangmu dan menantimu

 

Semakin lama aku mencintaimu

Semakin lama aku mengenangmu

Semakin lemah diriku

Cinta…

 

Kini cinta bagaikan bunga sakura

Yang layu, gersang dan berguguran

Karena ku tahu kau tak mencintaiku

Kasih ku…

Ku hanya berharap engkau bahagia

Dan kau dapat terus menerus tersenyum

Karena senyummu adalah napasku

Karena senyummu adalah kekuatanku

Aku mencintaimu…

 

Karya : Oktaviana